Selasa, 26 Juni 2012

Ibrahim Mustafa


A.    Biografi Ibrahim Mustafa
        Jika kita membahas tentang Ibrahim Mustafa tidak enak rasanya jika kita tidak mengetahui tentang beliau, beliau dilahirkan di andalus pada tahun 1863 hijriah dan meninggal pada tahun 1927 hijriah[1],  Ibrahim musthafa adalah representasi kritikus dan pembaharu nahwu abad modern yang banyak mengilhami para ahli nahwu lain mengikuti pandangan dan pola berpikirnya. Ibrahim adalah seorang dosen pada fakultas Adab Universitas Fu’ad al-Awal (kini menjadi Universitas Kairo).
 Pada tahun 1936 ia menyelesaikan karyanya dibidang nahwu yang ia beri judul “Ihyâ’ al-Nahwi” (revitalisasi ilmu nahwu) dan setahun kemudian yaitu pada bulan Juli 1937 diterbitkan oleh lajnat al-ta’lif wa al-tarjamah wa al-nasyr Kairo dengan kata pengantar doktor Taha Husain yang memuji buku tersebut, kitab ini menjadi salah satu dari kitab pertama tentang pembaharuan ilmu nahwu, dia memberi nama kitab ini berdasarkan saran dari doktor Taha Husain.
        Pada bagian pengantarnya, Ibrahim Musthafa menyatakan sebagai berikut: ”Buku ini membahas tentang nahwu yang aku geluti selama tuju tahun tetapi aku sajikan hanya dalam beberapa lembar saja. Tujuanku adalah untuk mengubah metode nahwu dalam mempelajari bahasa Arab, melenyapkan bahasan nahwu yang memberatkan para pelajar dan menggantinya dengan cara-cara yang mudah dan simpel sehingga mereka dapat dengan mudah mempelajari bahasa Arab, juga mengantarkan mereka dapat memahami uslub-uslubnya (stylistikanya)…”[2]
Dan pada akhir kitabnya dia beliau menyatakan “i’rab itu tidak ada pada fiil, i’rab itu hanya ada pada ism, karena fi’il itu tidak bisa dii’rab.[3]
B.     Pembaharuan Ibrahim Mustafa
1.      Redevenisi nahwu
Sebelum mengajukan definisi nahwu menurut versinya, Ibrahim Musthafa terlebih dahulu mengkritik para ulama’nahwu klasik yang pada umumnya memberi definisi nahwu dengan:”pengetahuan yang dengannya dapat diketahui posisi akhir kata baik dari segi mu’rab maupun mabninya”
Dengan definisi nahwu seperti itu, lanjut Ibrahim, kajian nahwu hanya berkutat dan terfokus pada pada huruf-huruf terakhir pada sebuah kata-kata, khususnya lagi tentang mu’rab dan mabninya. Definisi seperti ini, kritik Ibrahim, sama dengan mempersempit wilayah kajian nahwu.
Bagi Ibrahim pengertian nahwu adalahaturan penyusunan kalimat dan penjelasan posisi setiap kata yang ada di dalamnya, posisi kalimat dalam kaitannya dengan kalimat lain yang lebih luas, sehingga menjadi sebuah ungkapan/susunan yang sistematis dan memiliki pengertian yang memadai”.[4]
2.      Penolakan pada amil
Sebelum mengkritik dan menolak konsep amil ini, Ibrahim Musthafa terlebh dahulu menggali dan mengambil intisari dari konsep amil tersebut dengan menyatakan sebagai berikut: “lebih dari seratus ribu tahun mereka menekuni dan mengkaji masalah i’rab dan kaidah-kaidahnya, tetapi apa hasil yang mereka dapat dan kaidah-kaidahnya, tetapi apa hasil yang mereka dapat untuk membongkar rahasia i’rab dan hakikatnya? Pada prinsipnya kajian mereka menyatakan bahwa I’rab adalah wujud adanya pengaruh dari amil baik yang verbal (terucapkan) maupun yang tidak. Mereka membicarakan tentang amil, syarat-syaratnya dan cara kerjanya seacara panjang lebar hingga seolah-olah konsep amil bagi mereka adalah nahwu itu sendiri”.
Beliau mengklarifikasikan sebagai berikut:[5]
a.       Setiap tanda i’rab merupakan pengaruh dari amil, jika amil tersebut tidak disebutkan secara langsung maka harus diperkirakan (muqaddar), memang ada amil yang harus tidak disebutkan tetapi yang pasti ia wajib ditakdirkan (muqaddar). Dalam satu jumlah bisa terdapat dua amil muqaddar yang tidak sama seperti dalam contoh:
"سقيا لك، تقديره إسق اللهم سقيا دعائى لك
b.      Dua amil tidak boleh ada dalam waktu bersamaan untuk sebuah ma’mul. Kalau kasus ini terjadi maka para ulama’ nahwu klasik membagi cara kerja keduanya, satu amil mempengaruhi terhadap lafadz sedangkan amil satunya lagi beroperasi pada segi posisinya seperti dalam kasusu kalimat:"بحسبك هذا". Huruf “ba” pada kata “hasbika” bermal pada lafadz “hasbika” itu sendiri, sedangkan amil ibtida’nya beramal pada posisinya yang menjadi mubtada’. Dari kasusu semacam ini lalu mereka menciptakan teori “al-Tanâzu’” (saling betrebut dalam beramal) yang sangat rumit dan berbelit-belit.
c.       Pada prinsipnya yang dapat menjadi amil adalah fi’il semata dan hanya beramal pada isim, baik rafa’ nashab. Fi’il hanyaa dapat merafa’kan satu isim saja, menasabkan lebih dari satu isim tetapi dapat merafa’kan dan menasabkan sekaligus.
d.      Fi’il yang mutasharrif (bukan jamid) memiliki daya beramal sempurna, sedangkan fi’il jamid dapat berlaku sebagai amil tapi sebagai amil yang lemah. Ia tidak dapat beramal kepada kata yang mendahuluinya, bahkan diantaranya ada dapat menjadi amil setelah memenuhi beberapa syarat tertentu seperti fi’il yang berfungsi sebagai ta’ajub, juga kata ni’ma dan bi’sa. Sedangkan fi’il naqis hanya dapat beramal kepada mubtada’ dan khabar.
e.        Isim juga dapat berfungsi sebagai amil karena dipersamakan dulu dengan fi’il seperti isim fa’il, isim maf’ul dan isim mashdar. Setiap isim yang tidak memiliki kemiripan dengan fi’il maka ia tidak dapat beramal atau menjadi amil. Cara kerja isim tidak terbatas pada sesama isim saja, tetapi juga dapat beramal pada fi’il, ia dapat merafa’kan dan menashabkan isim, tetapi terhadap fi’il ia hanya dapat menjazamkan saja.
f.        Huruf memiliki dua cara ia sebagai amil; pertama, ia berdiri sebagai huruf asli dan tidak dipersamakan terlebih dahulu dengan fi’il, kedua dapat beramal jarena dipersamakan dengan fi’il. Huruf dapat beramal baik terhadap isim maupun fi’il, ia merafa’kan, menasabkan dan mengejerkannya. Terhadap isim, huruf dapat beramal menjazamkan dan menasabkan. Jika huruf tersebut dalam proses amalnya dipersamakan dengan fi’il, maka kekuatan amalnya dilihat dari sejauhmana huruf tersebut memiliki kemiripan dengan fi’il baik dari segi makna maupun lafadznya. Huruf “inna”, misalnya, ia dapat beramal karena ia memiliki arti yang berfungsi meperkuat pernyataan (taukid). Oleh sebab itu, ia memiliki kesamaan dengan fi’il dari segi maknanya, disamping itu huruf “inna” juga terdiri dari tiga huruf, karenanya ia mirip dengan fi’il dari segi bentuknya. Jika “syiddah” yang ada pada huruf “inna” itu dihilangkan dan menjadi “in” saja, maka ia akan kehilangan daya kemiripannya dengan fi’il yang berarti pula semakin lemah beramalnya.
g.       Huruf baru bisa beramal setelah ia menjadi pasangan khusus bagi kata-kata atau kalimat tertentu. Huruf “lan” dan “lam” misalnya, keduanya dapat beramal terhadap fi’il mudhari’ sebab keduanya memang hanya dapat berpasangan dengan fi’il mudhari’. Ini berbeda misalnya dengan huruf “qad”, huruf ini tidak dapat beramal seba ia tidak memiliki pasangan khusus, ia dapat masuk pada fi’il mudhari’ maupun fi’il madhi.
h.      Sebuah huruf dapat beramal yang tidak sama dalam menurut konteks dan posisinya, misalnya seperti hurur “lâ”, ia terkadang dapat beramal sebagaimana amalnya “laisa” dan juga beramal seperti huruf “inna”.
i.         Posisi amil berada sebelum ma’mulnya, tetapi jika amil itu termasuk kategori amil yang kuat, maka ia dapat diletakkan setelah ma’mulnya.
j.        Pada prinsipnya antara amil dan ma’mul harus terkait langsung, tidak ada pemisah diantara keduanya, namun jika amil termasuk kategori yang kuat maka ia dapat dipisah dengan ma’mulnya.
k.      Amil-amil yang bekerja untuk fi’il memiliki posisi lebih lemah daripada amil-amil yang bekerja untuk isim. Sebab amil-amil yang bekerja untuk fi’il terkadang dapat dihilangkan jika telah terpenuhi syarat-syaratnya seperti huruf-huruf yang berfungsi sebagai “adawât al-syarthi”.
l.        Sebuah kata, dapat berfungsi sebagai amil dan juga ma’mul sekaligus, tetapi dua kata tidak dapat saling beramal.
m.     Bagian kata saja tidak dapat berperana sebagai amil.
n.       Ada beberapa amil yang hanya dapat beramal dari segi “mahalnya” saja, bukan pada lafadznya karena adanya hal-hal tertentu yang membuatnya demikian.
o.       Sekelompok huruf yang memiliki cara beramal sama, maka mereka akan dimasukan dalam sebuah keluarga seperti “inna” dan “kâna”. Masing-masing dari keluarga huruf tersebut memiliki cara kerja yang lebih luas. Itu sebabnya, ia disebut sebagai “ummul bab” (induk dari bab), masing-masing mereka juga memiliki hak beramal yang tidak dimiliki yang lain di luar kelompok mereka.

3.      Penyatuan tempat antara mubtada, fail dan naibul fail
Menurut beliau disatukannya ketiga bab tersebut karena antara ketiganya itu sama-sama isim, karena ketiga hukumnya sama-sama rafa’, kata beliau “jika kita melihat bab ini, kita akan menemukan bab yang menyebabkan ketiganya itu bisa dimasukkan dalam satu bab”.[6]
4.      Fathah bukanlah alamat I’rob
Jika selama ini tanda I’rab yang dikenalkan dalam nahwu ada tiga macam yaitu; fathah, kasrah dan dhammah, maka menurut Ibrahim musthafa fathah tidak dimasukkan ke dalam salah satu tanda i’rab. Jadi menurutnya, tanda i’rab itu hanya ada dua yaitu dhammah dan kasrah, keduanya muncul bukan karena adanya pengaruh dari amil tetapi dari sipembicara sendiri untuk menentukan makna dari kalimat.
Dhlommah adalah tanda dari isnad, sedangkan kasroh adalah tanda dari idlafah, Dalam kategori yang dibuat Ibrahim ada dua bahasan nahwu yang termasuk menerima tanda kasrah ini atau yang disebut idafah yaitu idafah konvensional (kata majmuk) dan idafah yang didahului oleh huruf (jar) seperti huruf “min. ila’ ‘an. ‘ala’ fi’ dan lain sebagainya yang olehnya disebut sebagai huruf idhafah (hurûf al-Idhafah).
Sedangkan fathah menurut beliau bukanlah termasuk dalam tanda I’rab karena menurut beliau fathah tidak enimbulkan atau menunjukkan ma’na apapun, adi sebenarnya fathah itu adalah tanda yang disukai orang arab dikarenakan fathah itu lebih ringan dari tanda yang lainnya.[7][8]
5.      Penolakan terhadab alamat I’rab fariyah (cabang)
Disamping i’rab asli (dhammah, kasrah dan fathah), para ahli nahwu klasik pada umumnya juga menciptakan i’rab cabang atau yang biasa disebut dengan “al-‘Alâmat al-Far’iyyah” yang beperan sebabagi pengganti dari i’rab yang asli.
Dalam kasus al-Asma’ al-Khamsah, seperti contoh-contoh berikut ini: "جاء أبوك، رأيت أباك، مررت بأبيك”, menurut ahli nahwu klasik yang pertama alamat rafa’nya ditandai dengan huruf “wawu”, yang kedua alamat nasabnya ditandai dengan huruf “alif” sedang dalam contoh ketiga alamat jarnya ditandai dengan huruf “ya’”



Menurut Ibrahim musthafa sesuatu seperti itu terlalu mengada-ngada dan sangat dipaksakan, karena kalimat tersebut sebenarnya kalimat yang mu’rab seperti kalimat yang lainnya, seperti pada kasus tanda “و” ketika rafa’ atau “ي” ketika jar pada jama’ mudzakkar salim, menurut beliau sebenarnya alamat dari hal ter sebut bukanlah “و” ataupun “ي”, tetapi kalimat tersebut tandanya bisa dikembalikan pada alamt asalnya yaitu dlommah dan kasroh.[9]
6.      Tawabi’
Tawâbi adalah sebuah kata atau kalimat yang mengikuti kata atau kalimat sebelumnya[10]. tawabi’ tersebut adalah “al-athf, al-na’at, al-taukid dan al-badal”[11]. Ibrahim tidak menolak adanya tawabi’ ini. Yang ia usulkan adalah agar pembahasan tentang athaf (al-Athf) tidak dimasukkan ke dalam jajaran tawabi atau menjadi pembahasan tersendiri. Sebab lafadz yang diatafkan memang tidak termasuk dari tawabi, tetapi lafadz yang memiliki kedudukan yang sejajar dengan ma’thuf-nya.[12]
Pertama menurut beliau a’thaf nasaq tidak dimasukkan dalam tawabi’, dikarenakan menurut beliau a’taf nasaq menyerupai terhadap sifat, dan i’rab dari hal ini dimasukkan dalam isnad ataupun idlafah, berarti menurut beliau pembahasan dari a’thaf nasaq terfokus pada ma’na huruf a’taf, bukan pada kalimatnya.[13]
Kedua, menurut beliau na’at sababi juga tidak bisa dimasukkan kedalam tawabi’, alasan dari na’at sababi ini juga sama dengan a’taf nasaq, maksudnya dengan sebab apapun na’at sababi adalah sifat.[14]
Ketiga, yang lebih aneh menurut beliau khabar harus dimasukkan dalam tawabi’, karena dilihat dari pengertian tawabi’ sendiri adalah kalimat yang mengikuti kalimat sebelumnya, menurut beliau khabar dimasukkakn kedalam tawabi’ karena hal ter sebut.[15]
7.      Isimnya (لا) نفيه للجنس
Menurut ulama ilmu nahwu terdahulu isimnya la nafiyah liljinsi ini mabni ala fathah, dan mahalnya nashab apabila mufrad, dan apabila mudaf atau syibeh mudaf maka menjadi mu’rab dan tetap dibaca nashab.[16]
Akan tetapi menurut ibrahim musthafa bukanlah seperti itu, jadi menurut beliau antara (لا) dan isimnya itu adalah satu kesatuan yang belum sempurna tanpa khabar setelahnya.[17] Contoh: لاريب,لاشك
8.      Tanwin dalam  alam
Menurut ulama nahwu terdahulu “tanwin adalah alamat dari isim”[18], sedangkan menurut ibrahim musthafa hal tersebut tidaklah benar, menurut beliau tanwin bukanlah alamat dari isim bahkan menurut beliau sebenarnya isim itu  tidak mungkin di tanwin kecuali yang nakirah.[19]
9.      Isim ghairu munsharif
Sebagaimana ibrahim mustafa tturkan bahwasanya tanwin adalah tanda dari nakirah, dan asalnya itu tidaklah ditanwin, maka isim ghairu munsharif itu adalah isim alam yang ajami yaitu nama-nama sealain nama orang arab, juga tarkib mazji, dan yang mengikuti wazan fiil, itu adalah yang tidak bisa kemasukan tanwin, dan itu bukanlah karena ilat tapi karena memang asalnya tidak ditanwin.[20]



















[1] دراسات نقدية في النحو العربيّ : المقدمة
[2] Abd al-Muta’al al-Sha’idy, al-Nahwu al-Jadîd, (Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi, 1947), p.7.

[3] Ihya annahwu
[4] Ihya annahwi
[5] Ihya annahwi
[6] Ihya annahwi 54
[7] Ihya annahwi
[8]  يُنظر : في إصلاح النحو العربيّ
[9] Ihya annahwi
[10] jurumiah
[11] jurumiah
[12] Ihya annahwi
[13] Ihya annahwi
[14] Ihya annahwi
15 Ihya annahwi

[16] imrithi
[17] Ihya annahwi
[18] jurumiah
[19] Ihya annahwi
[20] Ihya annahwi

Tidur

batin ini menolak untuk masuk kedalam mimpi. namun apalah daya tak kuasa hati. jika memang kebahagiaan hanya berada didalam mimipi. dan tidak akan pernah ada diluar mimpi, lebih baik aku berada didalam mimpi, dan meneruskan tidur ini. 

selamat bermimpi,..

IBU

ibu... tiadakah hal yang bisa membuatku membalasmu??
kata2ku bukanlah sesuatu yang cukup untuk itu...
mungkin tangisanku bukanlah hal yang ckup juga...
betapa sakitnya, betapa susahnya dirimu waktu itu...
dan aku hanya bisa menangis dan menangis...
dan ketika aku sekarang tertawa terbahak2..
kau hanya bisa menangis dihadapan tuhanmu di doamu untukku...

Senin, 21 Mei 2012

berharap..

Ya Tuhan
kabulkanlah apa yang diminta oleh kedua orang tuaku..
itu lah permintaan ku untuk hari ini.
amin..

galau

bingung dengan sendiri
apa yang harus dilakukan
lebih baik begini
tidak ada pikiran


ada apa dengan apa-apa?

apa-apa..
apa itu apa-apa?
kenapa harus takut dengan apa-apa
dan mengapa harus apa-apa?
....????
apa apa-apa itu adalah apa-apa???
ada apa dengan apa-apa???



Jumat, 04 Mei 2012

التقرير: السحر في اندونيسيا



السحر في اندونيسيا

الحمد لله رب العلمين، أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله. أنا محمد محفوظ الدين أن يقدم تقريرا عن السحر في اندونيسيا. هذا التقرير أعمل من خلال المعلومات الموجودة على شبكة الانترنت. قد يكون من المفيد لنا جميعا. آمين

ازدادت اعداد السحرة في بيوتنا يوم بعد اخر وازداد ضحايا السحر والشعوذه بشكل مرعب وذلك بعد استقدام العمالات الاجنبية من الدول المشهورة بهذا الوباء الخطر ففي المرتبة الاولى حصلت اندونيسيا على اولى المراتب في مجال السحر الاسود واثبتت الدراسات في السعودية ان 70 % في المائة من المستقدمين من اندونيسيا يتعاطون السحر والشعوذة وفي استطلاع لجريدة الجزيرة في زيارة خاصة لجاكرتا العاصمة كشفت تلك الصحيفة اسرار السحرة والتقت بعدد من الضحايا الخليجيين الذين جائوا لفك السحرعنهم بعد وقوعهم ضحايا لخادمتهم الاندونيسة فالسحر هناك يدرس في مدارس خاصة بجميع انواعه وكتب السحر تباع في الاسواق والمحلات وعلى الارصفة في الشوارع ويعود وجود السحر عندهم الى تاريخ قديم وقد ذكر الكاتب انيس منصور في كتابه عن الرحلات حول العالم عندما زار اندونيسيا عام1959م مندهشا من انتشار السحر في اندونيسيا وكتب عن مارأى في طريقة تحضير الجن والارواح هناك

وحتى الانواع النادرة من السحر لازالت موجده ومنتشرة في اندونيسيا كالسحر التمثيلي وغيره

ومن انواع السحر الاسود هناك سحر الفودو ومنه ما يخصص للقتل يتخذون هيكلا معقودا من الحديد او الخشب على شكل انسان (دمية) الذين يريدون الانتقام منه ليحققون به مرادهم ومطالبهم الشريرة

واحيانا يغرزون فيها الدبابيس ينفثون فيها طلاسمهم تسليطا للارواح الشريرة قال تعالى (ومن شر النفاثات في العقد) فيتألم الضحية ويشعر بالسكاكين والالام تغرز في المكان المقصود من جسده

والسحرة هناك على درجات ومراتب وكبيرهم الذي يعلمهم السحر يلقب دكون بالاندونيسية وتشتهر جزر ومناطق بأشد واقوى انواع السحرالاسود يوجد في اندنوسيا نوعين من السحر الابيض والاسود

الابيض وهو روحاني ويتميز بعدم الاذية للغير؟ ومنة المحبة والقبول وفك الاسحار وضد الرصاص والرزق وهكذا وهذا السحر باالذات يتميز بانة بطي المفعول ويقوم علية الجن المسلم ويكونو خدم للروحاني؟ بسبب تعبدهم باالمساجد وتكرار النطق بايات ودعاء بعدد كبير جدا كان يقول الله قادر ثلاث الاف مرة بعد كل صلاة وهم المتصوفون الاكثرية ومن شروط هذا النوع من السحر ان يتم زيارة مزارات لرجال صالحين وتقديم الاكل لهم وهولاء الصالحين كانو اساد السحر الروحاني من القدم والعجيب ان الروحانين يطلبون من الجن بعزة ومقام عبدالقادر الجيلاني لاتمام عملهم من قبل الجن باسرع وادق ماامكن فهذا الجيلاني مقبور في بغداد من اربعمائة سنة وهو سيد وحاكم الجن العلوي المسلم من القدم وعائلتة موجودة في بغداد مازالت ويتوراثون هذا العمل اب عن جد وكذلم مزارة الذي يزورة الالاف في اليوم لقضاء حاجة او شفاء مرض .

السحر الاسود وهو يتركز با باندوق وهي بعيدة عن جاكرتا العاصمة بساعتين وهذة المدينة 75 باالمائة من سكانها يعملون باالسحر الاسود اي سحرة والاسود منتشر بكثرة في جاو وسومطرة وكل اندنوسيا وهو يتم عملة باالعملة السعودية 25 ريال ولة مدة معينة لايتعدها وكل ماطلبت من الساحر مدة اطول يزيد المبلغ وهكذا وباالعادة لايتعدي من 3 الي 6 شهور انواع السحر الاسود في اندنوسيا الوغز باالابر وهو سحر الموت ويتم عمل دمية باسم المسحور الذي لايطلبون منك الااسمة واسم ابية والعائلة والام ليس مهم او صورة فوتوغرافية للمسحور ويعملون دبوس ينغزون منطقة القلب باالدبوس والمسحور يتم احساسة بهذة النغزة ويموت بسرعة وسحر الموت البطي للتعذيب هو نفخ البطن ولقد ريت هذا النوع من السحر بشخص البطن منفوخ بشكل غير طبيعي وتم فك السحر لهذا المنفووخ وتم رجوع البطن بلمح البصر او سحر المحبة الاسود ةيقومون بوضعة علي شجرة وكل ما ياتي هواء ويحرك الورقة الموجود فيها السحر يتم الشوق المبكي والمدمر والقاتل للمعشوق والله ان يقطع البراري والمحيطات بسببة فهذا السحر لايحتمل او سحر الربط وسحر النكاية هو وضع السحر باالمقبرة او البحر فهذا لك وللزمن فامرة في غاية الصعوبة

ويقول احد سفراء الدول الخليجية في اندونيسيا ان الحكومة الاندونيسية تستعين بالسحرة في اغلب الامور وفي الانتخابات حتى ان رؤسائهم ووزرائهم لهم ساحرهم الخاص يعتمدون عليه ويستشيرونه وان الشعب الخليجي والعربي مبتلى بهم بكثرة ضحايا السحر من الخادمات

والاعلام والتلفزيون الاندونيسي يعرض برامج خاصة للسحرة واستعراضاتهم حتى صارت اغلب البرامج تتحدث عن الجن والسحرة

تقول صحيفة الجزيرة عندما غامرنا بأنفسنا و زرنا هؤلاء السحرة في ازقة شوارع جاكرتا الضيقة الذين كشفوا عن اسرار الخدم الذين يأتون اليهم قبل ان يسافرو ليتعلوا السيطرة على رب المنزل والانتقام والتفريق و الامراض والزواج ممن يريدون وعشقهموقال الساحر الاندونيسي ان مصدر رزقهم صار من هؤلاء الخدم الذين يدفعون المال لهم ويسرد قوله ان الكثير من الخليجيين يأتون اليهم طالبين فك سحرالخدم التي تصل درجة خبث الاندونيسيات بعد تسفيرهم الى تهديد كفلائهم بالسحر وتجديده وابتزازهم باالاموال

واستعرض الساحر قدراته امامهم وجعل احد الصحفيين المرافقين يتلبسه الجن ويقوم بحركات هستيرية ويرقص بكل مهارة فائقة

وعندما افاق اقسم انه لايدري اين و ما فعل وانه لم يرقص طوال حياته

وبسؤال احد الخليجين المضرورين هناك بكى بحرقة و قال ارجو منكم التطرق الى هذه القضية انها قضية القضايا فأنا هنا جئت لأعيد اسرتي بعدما سحرتهم الخادمة فابنتي المتفوقة انقلبت حياتها وفصلت من المدرسة وأمها طلقتها بعد عشرة عمر طويلة كانت مثلا للحياة الزوجية والاستقرار والان المجرمة هربت و رفضت فك السحر حتى صرت رهين مراجعات لهؤلاء السحرة الذين باتو يشيدون علي بيوت الوهم دون بارقة حل !! وانهى كلامة مطالبا باقامة الحد الشرعي عليهم

قصص الضحايا مع هؤلاء الاندونيسيات لاتعد ولاتحصى

ومعاناة يشيب منها الولدان وامراض تفتك الكبير قبل الصغير
فكم من بيوت تفرقت وشردت (ويتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرء وزوجه) (ويتعلمون مايضرهم ولاينفعهم ) صدق تعالى
وكم من اطفال وعوائل توفيت بسبب سحرهم واخرون سحروهم بالشلل والصرع والربط والجنون وغيرها من المصائب واي مصائب اعظم من ذلك

واصبحت عيادات الرقية والطب النفسي في الخليج ممتلئة من هؤلاء الضحايا المدمرين ففي السعودية هيئة الامر بالمعروف والنهي عن المنكر تستقبل المئات من هؤلاء الضحايا المرضى الذين شاء لهم الله ان يكتشفو سحر خدمهم بعدما وجدوا القران الكريم في الحمامات مدنس بالنجاسات والطلاسم ملفوفة بدم الحيض وعقد وشعر واثار مسروقة

وقد عرضت قناة المجد وقناة الجزيرة وغيرها الكثير من الفضائح باعتراف الاندونيسيات المقبوض عليهم بالسحر بان هذا جزء من عقيدتهم يستخدمونه في الوقت المناسب اما عند وصولهم الى البيوت فيتلونون بوجه البراءة والمحبة والطاعة والصلاة وحتى التدين !!

وفي جدة سألنا احد اكبر المشايخ المختصين بالسحر فقال اننا نستقبل المئات من الحالات والاتصالات من ضحايا الاندونيسيات من جميع الدول واغلبها السعودية والكويت والامارات ولا يخلو اي احد من المعالجين من ضحاياهم ويقول رأينا من هؤلاء المخلوقات الغريبة القصص والعجائب فالمعاملة الجيدة والاحسان لهم يزيدهم حقدا وحسدا ويقابلونك بالنكران وجحد النعمة اما الذي لايعلم بالسحر عندهم يعتبرونه سفيه على حد قولهم!
يقول الشيخ بعد ان دمروا البيوت والانفس وصل بهم تعليم السحر الى الاطفال فقد جائتنا امراة تشتكي من ان ابنتها وهي طالبة في المدرسة تعلمت السحر من خادمتهم التي كانت تحضر الجن مع الابنة في الغرفة وترى ابناءها في اندونيسيا عن طريق بلورة الماء طبعا بتشكل الجن لها وصارت الابنة تعلم السحر لزميلاتها في المدرسة بعدما اقنعتها الخادمة ان السحر شيءعادي ويستخدمونه هناك لقضاء حوائجهم صدق تعالى (ولكن الشياطين كفروا يعلمون الناس السحر وما انزل على الملكين ببابل هارروت وماروت وما يعلمان من احد حتى يقولا انما نحن فتنة فلا تكفر)

يقول احدى الدكاترة النفسيين في دولة الامارات كنت لا أومن بالسحر واعتبره خرافه لكن بعدما استقدمت احدى الاندونيسات تغير الامر فبعد مرور الايام سرقت الخادمة عقد الماس ثمين جدا لزوجتي وعندما كشفتها زوجتي ضربتها فقررت تسفيرها وعدم اعطاءها الراتب الاخير فهددتنا بالانتقام والسحر وسرقت ملابسنا الخاصه اما نحن اخذنا كلامها بالسخرية وبعد تسفيرها اصبحنا في حالة يرثى لها من الالام والمشاكل حتى صارت زوجتي طريحة الفراش لاتتحرك وتصرع واما انا فزدادت الامراض والاوجاع علي فتركت العمل والعيادة وبدات كل اعراض السحر تظهر علينا ولكن لتشابه بعض اعراض السحر مع الامراض النفسية اخذنا جميع الادوية والعلاجات النفسية التي زادت الحالة سوءا لكن بعد مرور شهرين استقبلنا اتصال من الاندونيسية تهددنا بسحر اقوى ان لم ندفع لها الف دولار امريكي وذكرت لنا ملابسنا واثارنا المفقودة التي سرقتها وسحرتنا بهم واضطررت لتلبية طلباتها فورا وبعدها فكت السحر وقامت زوجتي كالحصان غير مصدقة واسترجعت صحتي وسعادتي وانتهت كل المصائب وايقنت ان السحرثابت و مذكور بالقران والسنه ولاينكره الا كافر ولايدرك معاناته الا من جربه وانا بصدد تأليف كتاب سميته( اثار السحر على النفس وتأثيره)

وآخرون رأوا أطفالهم الرضع مرتفعين في هواء سقف المنزل ويبكون بعدما قرات الخادمة طلاسمها عليهم فكشفوها صدفة بعد عودتهم من الدوام مصدومين

والاسرة الاخرى صار ابنهم الصغير يصرع وبعدما اخذوه مسرعين الى الاطباء والنفسيين لم يجدوا له حلا وبعد قراءة القران عليه صرع فجأه و نطق الجن على لسانة باللغة الاندونيسية بكل طلاقة ولفترة طويلة والاه؄ مصدومين وبعد مواجهة الخادمة الاندونيسة التي لم يمضي وصولها اسبوعين اخرجت السحر مبررة ان هذا الابن الصغير الذي لم يتجاوز الاربع سنوات بانه مؤذي!!
وحتى بعد وقوع زلزال اندونيسيا انفك اعمال المسحورين السعوديين والخليجين من الاندونيسيات مباشرة وكتب الله لهم الشفاء بعدما نبش الاعصار مكامن السحر المدفون وابطل الماء المخبوء
حوادث لا يصدقها الا الآلاف من البشر الذين يعانونها على يد
الانجاس والساحرات ومشاهد مثيرة تفوق الخيال ملئت دور الرقاة و اوراق الجرائد وصفحات الانترنت من كثرة الضحايا و قصص الانتقام الخطيرة التي لا تكفي لسردها
وما ذكرناه من معلومات قليل جدا بالنسبة الى الكم الهائل الموجود في اندونيسيا
للأمانة منقول